[1] -
[2] Bukankah kamu pandai dan berakal budi? Nah, dengarkanlah segala perkataanku ini.
[3] Orang tahu makanan enak bila mengecapnya, dan kata-kata bijak bila mendengarnya.
[4] Persoalan ini harus kita periksa lalu kita pecahkan bersama-sama.
[5] Kata Ayub, ‘Tak ada salah padaku, tetapi Allah tak mau memberi apa yang adil kepadaku.
[6] Aku dianggap berdusta, karena mengatakan aku tak berdosa. Kini aku luka parah, meskipun aku tak bersalah.’
[7] Pernahkah kamu melihat orang seperti Ayub ini? Ia mencemooh Allah berkali-kali.
[8] Ia suka berkawan dengan orang-orang durhaka serta bergaul dengan orang-orang durjana.
[9] Ia berkata, bahwa sia-sia sajalah jika ia berusaha melakukan kehendak Allah.
[10] Hai orang-orang yang bijak, dengarlah! Masakan Allah Yang Mahakuasa berbuat salah?
[11] Ia mengganjar manusia setimpal perbuatannya, memperlakukan dia sesuai kelakuannya.
[12] Allah Yang Mahakuasa tidak melakukan kejahatan; semua orang diberi-Nya keadilan.
[13] Dari siapakah Allah menerima kuasa-Nya? Siapakah mempercayakan bumi ini kepada-Nya?
[14] Seandainya Allah mencabut nyawa manusia, dan mengambil kembali napas hidupnya,
[15] maka matilah semua makhluk yang bernyawa, dan manusia menjadi debu seperti semula.
[16] Nah, jika engkau arif, perhatikanlah, pasanglah telingamu dan dengarkanlah.
[17] Apakah Allah yang adil dan perkasa itu kaupersalahkan? Apakah pada sangkamu Allah membenci keadilan?
[18] Allah menghukum raja dan penguasa bila mereka jahat dan durhaka.
[19] Ia tidak memihak kepada para raja, atau mengutamakan orang kaya daripada orang papa. Karena mereka semua adalah ciptaan-Nya.
[20] Di tengah malam, mereka dapat mati dengan tiba-tiba. Allah menghukum penguasa dan mereka pun binasa; dengan mudah dibunuh-Nya orang perkasa.
[21] Ia mengawasi hidup manusia, dilihat-Nya segala langkahnya.
[22] Tak ada kegelapan, betapa pun pekatnya, yang dapat menyembunyikan orang berdosa.
[23] Tidak perlu Allah menentukan saatnya, manusia datang untuk diadili oleh-Nya.
[24] Tanpa menyelidiki dan memeriksa Ia memecat penguasa dan mengangkat penggantinya.
[25] Sebab, Ia tahu apa yang mereka lakukan; maka Ia menggulingkan dan menghancurkan mereka di waktu malam.
[26] Mereka ditampar-Nya karena dosa mereka, di depan umum mereka dihukum-Nya.
[27] Sebab, mereka tidak mentaati kehendak-Nya dan tak mengindahkan segala perintah-Nya.
[28] Mereka menyebabkan orang miskin berkeluh kesah tangisan mereka didengar Allah.
[29] Apabila Allah memutuskan untuk diam saja, tak seorang pun akan berani mengecam-Nya. Apabila Ia menyembunyikan wajah-Nya, tak seorang pun dapat menemukan-Nya.
[30] Maka bangsa-bangsa tidak berdaya untuk mencegah penindasan jahat berkuasa.
[31] Ayub, apakah dosamu kepada Allah telah kauakui? sudahkah kau berjanji tak akan berdosa lagi?
[32] Sudahkah kauminta agar ditunjukkan-Nya kesalahanmu? Sudahkah kau bersumpah menghentikan perbuatan itu?
[33] Masakan Allah akan mengabulkan apa yang kauingini, setelah perbuatan Allah tidak kausetujui? Kini, engkau yang harus memutuskan, bukan aku. Katakanlah apa pendapatmu!
[34] Semua orang arif pastilah akan menyetujuinya; orang bijak yang mendengar aku akan berkata
[35] bahwa Ayub berbicara tanpa mengerti, dan bahwa perkataannya tidak mengandung arti.
[36] Jika kata-kata Ayub ditinjau dengan cermat, akan nyatalah bahwa bicaranya seperti orang jahat.
[37] Kesalahannya ditambah lagi dengan sebuah dosa; ia memberontak terhadap Allah, dan menghina-Nya di hadapan kita.