Skip to content
Opens in a new window
Listen to this chapter • 4:43

[1] Maka berbicaralah Bildad, orang Suah:

[2] "Berapa lamakah lagi engkau akan berbicara begitu, dan perkataan mulutmu seperti angin yang menderu?

[3] Masakan Allah membengkokkan keadilan? Masakan Yang Mahakuasa membengkokkan kebenaran?

[4] Jikalau anak-anakmu telah berbuat dosa terhadap Dia, maka Ia telah membiarkan mereka dikuasai oleh pelanggaran mereka.

[5] Tetapi engkau, kalau engkau mencari Allah, dan memohon belas kasihan dari Yang Mahakuasa,

[6] kalau engkau bersih dan jujur, maka tentu Ia akan bangkit demi engkau dan Ia akan memulihkan rumah yang adalah hakmu.

[7] Maka kedudukanmu yang dahulu akan kelihatan hina, tetapi kedudukanmu yang kemudian akan menjadi sangat mulia.

[8] Bertanya-tanyalah tentang orang-orang zaman dahulu, dan perhatikanlah apa yang diselidiki para nenek moyang.

[9] Sebab kita, anak-anak kemarin, tidak mengetahui apa-apa; karena hari-hari kita seperti bayang-bayang di bumi.

[10] Bukankah mereka yang harus mengajari engkau dan yang harus berbicara kepadamu, dan melahirkan kata-kata dari akal budi mereka?

[11] Dapatkah pandan bertumbuh tinggi, kalau tidak di rawa, atau mensiang bertumbuh subur, kalau tidak di air?

[12] Sementara dalam pertumbuhan, sebelum waktunya disabit, layulah ia lebih dahulu dari pada rumput lain.

[13] Demikianlah pengalaman semua orang yang melupakan Allah; maka lenyaplah harapan orang fasik,

[14] yang andalannya seperti benang laba-laba, kepercayaannya seperti sarang laba-laba.

[15] Ia bersandar pada rumahnya, tetapi rumahnya itu tidak tetap tegak, ia menjadikannya tempat berpegang, tetapi rumah itu tidak tahan.

[16] Ia seperti tumbuh-tumbuhan yang masih segar di panas matahari, sulurnya menjulur di seluruh taman.

[17] Akar-akarnya membelit timbunan batu, menyusup ke dalam sela-sela batu itu.

[18] Tetapi bila ia dicabut dari tempatnya, maka tempatnya itu tidak mengakuinya lagi, katanya: Belum pernah aku melihat engkau!

[19] Demikianlah kesukaan hidupnya, dan tumbuh-tumbuhan lain timbul dari tanah.

[20] Ketahuilah, Allah tidak menolak orang yang saleh, dan Ia tidak memegang tangan orang yang berbuat jahat.

[21] Ia masih akan membuat mulutmu tertawa dan bibirmu bersorak-sorak.

[22] Pembencimu akan terselubung dengan malu, dan kemah orang fasik akan tidak ada lagi."

Ayub — Chapters