Skip to content
Opens in a new window
Listen to this chapter • 3:59

[1] Setelah itu, Isa melakukan perjalanan di wilayah Galilea. Ia tidak mau tinggal di wilayah Yudea sebab orang-orang Israil berupaya untuk membunuh-Nya.

[2] Waktu itu hari raya orang Israil, yaitu hari raya Pondok Daun, hampir tiba.

[3] Saudara-saudara Isa berkata kepada-Nya, “Pindahlah dari sini dan kembalilah ke wilayah Yudea supaya pengikut-pengikut-Mu dapat melihat segala pekerjaan yang Kaulakukan.

[4] Tak seorang pun melakukan sesuatu secara sembunyi-sembunyi jika ia ingin menjadi masyhur. Jika Engkau melakukan hal-hal yang demikian itu, nyatakanlah diri-Mu kepada dunia ini.”

[5] Bahkan saudara-saudara-Nya pun tidak percaya kepada-Nya.

[6] Sabda Isa kepada mereka, “Waktu-Ku belum tiba, tetapi bagi kamu selalu ada waktu.

[7] Dunia ini tidak dapat membenci kamu, tetapi Aku dibenci oleh dunia sebab Aku memberi kesaksian bahwa semua perbuatannya jahat.

[8] Pergilah kamu ke perayaan itu. Aku belum pergi ke perayaan itu sebab waktu-Ku belum tiba.”

[9] Setelah Isa bersabda demikian kepada mereka, tinggallah Ia di Galilea.

[10] Tetapi, ketika saudara-saudara-Nya telah berangkat ke perayaan itu, Isa pun pergi ke situ secara sembunyi-sembunyi, tidak terang-terangan.

[11] Orang-orang Israil mencari Dia pada perayaan itu, kata mereka, “Di manakah orang itu?”

[12] Banyak orang berbisik-bisik mengenai Isa. Ada yang berkata, “Ia orang baik,” tetapi ada pula yang berkata, “Tidak, Ia menyesatkan orang banyak.”

[13] Tetapi, tidak seorang pun berbicara secara bebas mengenai Isa sebab mereka takut terhadap orang-orang Israil.

[14] Tengah perayaan masih berlangsung, Isa masuk ke Bait Allah, lalu mengajar.

[15] Orang-orang Israil pun menjadi heran, lalu kata mereka, “Bagaimana orang ini tahu tentang kitab-kitab, padahal Ia belum pernah mempelajarinya?”

[16] Lalu, sabda Isa kepada mereka, “Ajaran-Ku bukan dari diri-Ku sendiri, melainkan dari Dia yang telah mengutus Aku.

[17] Jika seseorang mau melakukan kehendak-Nya, maka ia akan tahu apakah ajaran ini berasal dari Allah atau dari diri-Ku sendiri.

[18] Orang yang berbicara atas namanya sendiri mencari kemuliaan bagi dirinya sendiri. Tetapi, orang yang mencari kemuliaan bagi Dia yang mengutusnya adalah orang yang jujur, dan dalam dirinya tidak ada ketidakbenaran.

[19] Bukankah Musa telah memberikan kepadamu hukum Taurat? Tetapi, tak seorang pun di antara kamu yang melaksanakannya. Mengapa kamu mencari jalan untuk membunuh Aku?”

[20] Jawab orang banyak itu, “Engkau kerasukan setan! Siapa yang mencari jalan untuk membunuh-Mu?”

[21] Sabda Isa kepada mereka, “Aku melakukan satu mukjizat dan kamu semua merasa heran.

[22] Musa memberikan kepadamu peraturan tentang khitan (peraturan itu bukan dari Musa asalnya, melainkan dari para leluhur), dan kamu mengkhitan orang pada hari Sabat.

[23] Jikalau seseorang dikhitan pada hari Sabat supaya tidak melanggar hukum Musa, mengapa kamu marah kepada-Ku karena Aku menyembuhkan seluruh tubuh seseorang pada hari Sabat?

[24] Jangan kamu menghakimi menurut apa yang kelihatan saja, melainkan hakimilah dengan adil.”

[25] Lalu, beberapa orang penduduk Kota Yerusalem berkata, “Bukankah Dia adalah orang yang hendak mereka bunuh?

[26] Lihatlah, Ia berbicara dengan bebasnya dan tidak ada satu hal pun yang mereka katakan kepada-Nya. Mungkinkah para pemimpin itu benar-benar telah mengakui bahwa Dia adalah Al-Masih?

[27] Kita tahu dari mana asal orang ini. Sedangkan apabila Al-Masih datang nanti, tidak seorang pun tahu dari mana asal-Nya.”

[28] Sebab itu, pada waktu Isa mengajar di Bait Allah, Ia berseru, “Kamu memang mengenal siapa Aku serta tahu pula dari mana asal-Ku. Namun, Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri. Dialah yang mengutus Aku, yaitu Yang Mahabenar. Kamu tidak mengenal Dia,

[29] tetapi Aku mengenal Dia karena Aku datang daripada-Nya, dan Dia pula yang mengutus Aku.”

[30] Mereka mencari jalan untuk menangkap Isa, tetapi tidak ada seorang pun yang berani memegang-Nya sebab waktu-Nya belum tiba.

[31] Meskipun demikian, banyak pula dari antara khalayak ramai itu yang percaya kepada-Nya. Mereka berkata, “Apabila Al-Masih datang, akankah Ia mengadakan lebih banyak tanda ajaib daripada orang ini?”

[32] Orang-orang dari mazhab Farisi mendengar bahwa orang banyak berbisik-bisik begitu tentang Isa. Maka, imam-imam kepala dan orang-orang dari mazhab Farisi pun menyuruh para pengawal untuk menangkap-Nya.

[33] Lalu, sabda Isa, “Tinggal sesaat saja lamanya Aku bersama-sama dengan kamu, kemudian Aku akan kembali kepada Dia yang telah mengutus Aku.

[34] Kamu akan mencari Aku, tetapi kamu tidak akan menemukan Aku, dan kamu tidak akan dapat mendatangi tempat di mana Aku berada.”

[35] Sebab itu, orang-orang Israil berkata seorang kepada yang lain, “Ke manakah orang ini hendak pergi sehingga kita tidak akan menemukan-Nya? Apakah Ia hendak pergi kepada orang-orang Israil yang tersebar di antara orang Yunani, lalu mengajar orang Yunani juga?

[36] Apakah maksud dari perkataan yang diucapkan-Nya, ‘Kamu akan mencari Aku, tetapi kamu tidak akan menemukan Aku dan kamu tidak dapat mendatangi tempat di mana Aku berada’?”

[37] Pada hari terakhir, hari yang paling utama pada perayaan itu, Isa berdiri dan berseru, “Siapa dahaga, hendaklah ia datang kepada-Ku dan minum!

[38] Siapa percaya kepada-Ku, seperti telah tertulis dalam Kitab Suci, ‘Aliran sungai-sungai air hidup akan mengalir di dalam hatinya.’”

[39] Isa berbicara perihal Ruh Allah yang akan diterima oleh orang-orang yang percaya kepada-Nya. Pada waktu itu Ruh belum dicurahkan sebab Isa belum dimuliakan.

[40] Setelah mereka mendengar apa yang disabdakan-Nya itu, beberapa orang di antara mereka berkata, “Orang ini benar-benar nabi yang akan datang.”

[41] Sedangkan yang lain berkata, “Dialah Al-Masih.” Tetapi, ada pula yang berkata, “Masakan Al-Masih berasal dari Galilea?

[42] Bukankah telah tertulis di dalam Kitab Suci bahwa Al-Masih itu berasal dari keturunan Daud dan dari Baitlahim, yaitu desa tempat Daud lahir?”

[43] Lalu, terjadilah perselisihan di antara orang banyak itu mengenai Isa.

[44] Sebagian dari mereka ingin menangkap Isa, tetapi tak seorang pun berani memegang-Nya.

[45] Para pengawal itu kembali kepada imam-imam kepala dan orang-orang dari mazhab Farisi. Lalu, bertanyalah mereka kepada para pengawal itu, “Mengapa kamu tidak membawa Dia?”

[46] Jawab para pengawal itu, “Belum pernah ada seorang pun yang berbicara seperti Dia.”

[47] Lalu, jawab orang-orang dari mazhab Farisi, “Apakah kamu juga sudah disesatkan?

[48] Adakah salah satu di antara para pemimpin yang percaya kepada-Nya? Atau salah satu di antara orang-orang dari mazhab Farisi?

[49] Tetapi, orang banyak yang tidak mengenal hukum Taurat itu, terkutuklah mereka!”

[50] Kemudian, Nikodemus, salah seorang dari mereka yang dahulu pernah datang menemui Isa, berkata kepada mereka,

[51] “Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang tanpa mendengarkannya terlebih dahulu serta mencari tahu apa yang telah dilakukan olehnya?”

[52] Lalu, jawab mereka kepadanya, “Apakah engkau juga berasal dari Galilea? Selidikilah dan perhatikanlah, tidak ada seorang nabi yang berasal dari Galilea.”

[53] Setelah itu, pulanglah mereka semua ke rumah masing-masing,

Kitab Injil Yahya — Chapters