Skip to content
Opens in a new window
Listen to this chapter • 9:49

[1] “Sesungguhnya, Aku berkata kepadamu, siapa masuk ke dalam kandang domba tanpa melalui pintu, tetapi memanjat dari tempat lain, ia adalah pencuri dan penyamun.

[2] Sedangkan orang yang masuk melalui pintu adalah gembala dari domba-domba dalam kandang itu.

[3] Penjaga pintu akan membukakan pintu baginya, dan domba-domba mendengarkan suaranya. Domba-domba itu dipanggilnya sesuai dengan nama masing-masing, lalu dituntunnya keluar.

[4] Setelah semua domba dikeluarkannya, ia berjalan di depan, lalu domba-domba itu mengikutinya sebab mereka mengenali suaranya.

[5] Domba-domba itu tidak akan pernah mengikuti orang yang asing. Mereka akan lari dari orang itu sebab mereka tidak mengenali suaranya yang asing.”

[6] Ibarat itu disampaikan Isa kepada mereka, tetapi mereka tidak mengerti maksud dari apa yang disabdakan-Nya kepada mereka.

[7] Kemudian, Isa kembali bersabda kepada mereka, “Sesungguhnya, Aku berkata kepadamu, Akulah pintu bagi domba-domba itu.

[8] Semua orang yang datang mendahului Aku adalah pencuri dan penyamun, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka.

[9] Akulah pintu. Jika seseorang masuk melalui Aku, ia akan selamat dan akan keluar masuk serta mendapatkan makanan.

[10] Pencuri datang hanya untuk mencuri, membunuh, dan membinasakan. Sebaliknya, Aku datang dengan maksud supaya domba-domba itu mempunyai hidup, dan mempunyainya berlimpah-limpah.

[11] Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik menyerahkan nyawanya bagi domba-dombanya.

[12] Sedangkan seorang upahan dan yang bukan gembala, yaitu yang bukan pemilik domba-domba itu, akan meninggalkan domba-domba itu dan melarikan diri apabila ia melihat serigala datang. Dengan demikian, serigala akan merebut domba-domba itu, lalu mencerai-beraikan mereka.

[13] Ia lari sebab ia adalah seorang upahan dan tidak peduli dengan domba-domba itu.

[14] Akulah gembala yang baik. Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku,

[15] sama seperti Sang Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Sang Bapa. Aku menyerahkan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku.

[16] Pada-Ku masih ada domba-domba lain yang bukan dari kawanan ini. Domba-domba itu pun harus Kubawa dan suara-Ku akan mereka dengar. Domba-domba itu akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.

[17] Sang Bapa mengasihi Aku karena Aku menyerahkan nyawa-Ku untuk mengambilnya kembali.

[18] Tak seorang pun mengambilnya dari Aku, tetapi Aku menyerahkannya atas kehendak-Ku sendiri. Aku memiliki wewenang untuk menyerahkannya, dan juga wewenang untuk mengambilnya kembali. Perintah ini Kuterima dari Bapa-Ku.”

[19] Kemudian, terjadi lagi perselisihan di antara orang-orang Israil karena semua yang disabdakan Isa.

[20] Banyak dari mereka yang berkata, “Ia kerasukan setan dan gila! Mengapa kamu mendengarkan-Nya?”

[21] Ada pula yang berkata, “Itu bukan perkataan orang yang kerasukan setan. Adakah setan yang membuat mata orang buta dapat melihat?”

[22] Hari raya Pentahbisan Bait Allah di Yerusalem telah tiba, dan saat itu bertepatan dengan musim dingin.

[23] Isa berjalan-jalan di Bait Allah, di Serambi Sulaiman.

[24] Lalu, orang-orang Israil mengelilingi-Nya serta berkata, “Berapa lama lagi Engkau membuat hati kami bimbang? Jika Engkau memang Al-Masih, katakanlah kepada kami secara terus terang.”

[25] Sabda Isa kepada mereka, “Sudah Kukatakan kepadamu, tetapi kamu tidak juga percaya. Semua pekerjaan yang Aku perbuat dalam nama Bapa-Ku, itulah yang menjadi saksi bagi-Ku,

[26] tetapi kamu tidak percaya sebab kamu bukan termasuk kawanan domba-domba-Ku.

[27] Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku. Aku mengenal mereka dan mereka mengikuti Aku.

[28] Aku memberikan hidup kekal kepada mereka dan mereka tidak akan binasa sampai selama-lamanya. Selain itu, tak seorang pun akan merebut mereka dari tangan-Ku.

[29] Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar daripada semuanya sehingga tak seorang pun dapat merebut mereka dari tangan Sang Bapa.

[30] Aku dan Sang Bapa satu adanya.”

[31] Lalu, orang-orang Israil kembali memungut batu hendak merajam Isa.

[32] Sabda Isa kepada mereka, “Banyak perbuatan baik dari Bapa-Ku yang Kutunjukkan kepadamu. Jadi, karena perbuatan yang manakah kamu hendak merajam Aku?”

[33] Jawab orang-orang Israil kepada-Nya, “Kami hendak merajam Engkau bukan karena perbuatan baik yang Kaulakukan, melainkan karena penghujahan. Engkau hanya seorang manusia, tetapi Engkau menyamakan dirimu dengan Allah.”

[34] Sabda Isa kepada mereka, “Bukankah telah tertulis di dalam Kitab Suci Tauratmu, ‘Aku sudah bersabda: Kamu adalah ilahi’?

[35] Jadi, jika orang-orang itu disebut sebagai ilahi karena firman Allah ditujukan kepada mereka (padahal Kitab Suci tidak dapat dibatalkan),

[36] masakan kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Sang Bapa dan yang diutus-Nya ke dalam dunia ini, ‘Engkau menghujah,’ hanya karena Aku berkata, ‘Aku adalah Sang Anak yang datang dari Allah’?

[37] Jika Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, jangan percaya kepada-Ku.

[38] Tetapi, jika Aku melakukannya dan kamu tidak percaya kepada-Ku, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu supaya kamu tahu dan mengerti bahwa Sang Bapa di dalam Aku, dan Aku di dalam Sang Bapa.”

[39] Mereka kembali mencari jalan untuk menangkap Isa, tetapi Ia lolos dari tangan mereka.

[40] Kemudian, Isa pergi lagi ke seberang Sungai Yordan, ke tempat Yahya mula-mula mempermandikan orang-orang yang bertobat, lalu tinggallah Ia di situ.

[41] Banyak orang datang kepada-Nya dan berkata, “Nabi Yahya tidak membuat satu tanda ajaib pun, tetapi semua yang dikatakannya mengenai orang ini memang benar.”

[42] Di situ pun banyak orang menjadi percaya kepada Isa.

Kitab Injil Yahya — Chapters