Skip to content
Opens in a new window
Listen to this chapter • 6:07

[1] Hai anakku, jikalau engkau menjadi penanggung sesamamu, dan membuat persetujuan dengan orang lain;

[2] jikalau engkau terjerat dalam perkataan mulutmu, tertangkap dalam perkataan mulutmu,

[3] buatlah begini, hai anakku, dan lepaskanlah dirimu, karena engkau telah jatuh ke dalam genggaman sesamamu: pergilah, berlututlah, dan desaklah sesamamu itu;

[4] janganlah membiarkan matamu tidur, dan kelopak matamu mengantuk;

[5] lepaskanlah dirimu seperti kijang dari pada tangkapan, seperti burung dari pada tangan pemikat.

[6] Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak:

[7] biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya,

[8] ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen.

[9] Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu?

[10] "Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring" –

[11] maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.

[12] Tak bergunalah dan jahatlah orang yang hidup dengan mulut serong,

[13] yang mengedipkan matanya, yang bermain kaki dan menunjuk-nunjuk dengan jari,

[14] yang hatinya mengandung tipu muslihat, yang senantiasa merencanakan kejahatan, dan yang menimbulkan pertengkaran.

[15] Itulah sebabnya ia ditimpa kebinasaan dengan tiba-tiba, sesaat saja ia diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi.

[16] Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya:

[17] mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah,

[18] hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan,

[19] seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara.

[20] Hai anakku, peliharalah perintah ayahmu, dan janganlah menyia-nyiakan ajaran ibumu.

[21] Tambatkanlah senantiasa semuanya itu pada hatimu, kalungkanlah pada lehermu.

[22] Jikalau engkau berjalan, engkau akan dipimpinnya, jikalau engkau berbaring, engkau akan dijaganya, jikalau engkau bangun, engkau akan disapanya.

[23] Karena perintah itu pelita, dan ajaran itu cahaya, dan teguran yang mendidik itu jalan kehidupan,

[24] yang melindungi engkau terhadap perempuan jahat, terhadap kelicikan lidah perempuan asing.

[25] Janganlah menginginkan kecantikannya dalam hatimu, janganlah terpikat oleh bulu matanya.

[26] Karena bagi seorang sundal sepotong rotilah yang penting, tetapi isteri orang lain memburu nyawa yang berharga.

[27] Dapatkah orang membawa api dalam gelumbung baju dengan tidak terbakar pakaiannya?

[28] Atau dapatkah orang berjalan di atas bara, dengan tidak hangus kakinya?

[29] Demikian juga orang yang menghampiri isteri sesamanya; tiada seorang pun, yang menjamahnya, luput dari hukuman.

[30] Apakah seorang pencuri tidak akan dihina, apabila ia mencuri untuk memuaskan nafsunya karena lapar?

[31] Dan kalau ia tertangkap, haruslah ia membayar kembali tujuh kali lipat, segenap harta isi rumahnya harus diserahkan.

[32] Siapa melakukan zinah tidak berakal budi; orang yang berbuat demikian merusak diri.

[33] Siksa dan cemooh diperolehnya, malunya tidak terhapuskan.

[34] Karena cemburu adalah geram seorang laki-laki, ia tidak kenal belas kasihan pada hari pembalasan dendam;

[35] ia tidak akan mau menerima tebusan suatu pun, dan ia akan tetap bersikeras, betapa banyak pun pemberianmu.

Amsal — Chapters