Skip to content
Opens in a new window
Listen to this chapter • 5:25

[1] Lebih baik sekerat roti yang kering disertai dengan ketenteraman, dari pada makanan daging serumah disertai dengan perbantahan.

[2] Budak yang berakal budi akan berkuasa atas anak yang membuat malu, dan akan mendapat bagian warisan bersama-sama dengan saudara-saudara anak itu.

[3] Kui adalah untuk melebur perak dan perapian untuk melebur emas, tetapi TUHANlah yang menguji hati.

[4] Orang yang berbuat jahat memperhatikan bibir jahat, seorang pendusta memberi telinga kepada lidah yang mencelakakan.

[5] Siapa mengolok-olok orang miskin menghina Penciptanya; siapa gembira karena suatu kecelakaan tidak akan luput dari hukuman.

[6] Mahkota orang-orang tua adalah anak cucu dan kehormatan anak-anak ialah nenek moyang mereka.

[7] Orang bebal tidak layak mengucapkan kata-kata yang bagus, apalagi orang mulia mengucapkan kata-kata dusta.

[8] Hadiah suapan adalah seperti mestika di mata yang memberinya, ke mana juga ia memalingkan muka, ia beruntung.

[9] Siapa menutupi pelanggaran, mengejar kasih, tetapi siapa membangkit-bangkit perkara, menceraikan sahabat yang karib.

[10] Suatu hardikan lebih masuk pada orang berpengertian dari pada seratus pukulan pada orang bebal.

[11] Orang durhaka hanya mencari kejahatan, tetapi terhadap dia akan disuruh utusan yang kejam.

[12] Lebih baik berjumpa dengan beruang betina yang kehilangan anak, dari pada dengan orang bebal dengan kebodohannya.

[13] Siapa membalas kebaikan dengan kejahatan, kejahatan tidak akan menghindar dari rumahnya.

[14] Memulai pertengkaran adalah seperti membuka jalan air; jadi undurlah sebelum perbantahan mulai.

[15] Membenarkan orang fasik dan mempersalahkan orang benar, kedua-duanya adalah kekejian bagi TUHAN.

[16] Apakah gunanya uang di tangan orang bebal untuk membeli hikmat, sedang ia tidak berakal budi?

[17] Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.

[18] Orang yang tidak berakal budi ialah dia yang membuat persetujuan, yang menjadi penanggung bagi sesamanya.

[19] Siapa suka bertengkar, suka juga kepada pelanggaran, siapa memewahkan pintunya mencari kehancuran.

[20] Orang yang serong hatinya tidak akan mendapat bahagia, orang yang memutar-mutar lidahnya akan jatuh ke dalam celaka.

[21] Siapa mendapat anak yang bebal, mendapat duka, dan ayah orang bodoh tidak akan bersukacita.

[22] Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.

[23] Orang fasik menerima hadiah suapan dari pundi-pundi untuk membelokkan jalan hukum.

[24] Pandangan orang berpengertian tertuju pada hikmat, tetapi mata orang bebal melayang sampai ke ujung bumi.

[25] Anak yang bebal menyakiti hati ayahnya, dan memedihkan hati ibunya.

[26] Mengenakan denda orang benar adalah salah, memukul orang mulia pun tidak patut.

[27] Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya, orang yang berpengertian berkepala dingin.

[28] Juga orang bodoh akan disangka bijak kalau ia berdiam diri dan disangka berpengertian kalau ia mengatupkan bibirnya.

Amsal — Chapters