Skip to content
Opens in a new window
Listen to this chapter • 4:33

[1] Malaikat yang kelima meniup nafirinya, lalu aku melihat sebuah bintang jatuh dari langit ke bumi. Kepada bintang itu diberikan anak kunci lubang jurang maut.

[2] Dibukanya lubang jurang maut itu, lalu naiklah asap dari dalam lubang itu, seperti asap dari perapian yang besar. Matahari dan angkasa menjadi gelap karena asap dari lubang itu.

[3] Dari dalam asap itu keluarlah belalang-belalang yang turun ke bumi, dan kepada mereka diberikan kekuatan yang sama seperti kekuatan kalajengking di bumi.

[4] Mereka diperintahkan untuk tidak merusak rumput atau tumbuh-tumbuhan atau pun pohon-pohon di bumi, melainkan hanya manusia yang pada dahinya tidak terdapat tanda segel dari Allah.

[5] Belalang-belalang itu tidak diizinkan membunuh orang-orang itu, melainkan hanya diizinkan menyiksa mereka selama lima bulan dengan siksaan seperti sengatan kalajengking.

[6] Pada masa itu orang-orang akan mencari kematian, tetapi mereka tidak dapat menemukannya. Mereka ingin mati, tetapi maut lari dari mereka.

[7] Rupa belalang-belalang itu seperti kuda yang siap untuk berperang. Di kepala mereka ada sesuatu yang mirip mahkota dari emas, dan wajah mereka seperti wajah manusia.

[8] Rambut mereka seperti rambut perempuan dan gigi mereka seperti gigi singa.

[9] Dada mereka seperti baju zirah dan bunyi sayap mereka seperti bunyi kereta-kereta perang yang ditarik oleh kuda-kuda yang sedang berlari memasuki medan pertempuran.

[10] Ekor mereka seperti ekor kalajengking yang bersengat, dan kekuatan untuk menyiksa manusia lima bulan lamanya terletak di dalam ekor itu.

[11] Raja mereka adalah malaikat jurang maut. Nama malaikat itu dalam bahasa Ibrani adalah Abadon, dan dalam bahasa Yunani Apolion.

[12] Celaka yang pertama sudah berlalu dan akan menyusul dua celaka lagi.

[13] Malaikat yang keenam meniup nafirinya, lalu aku mendengar suatu suara keluar dari keempat tanduk mazbah emas yang ada di hadapan Allah.

[14] Suara itu berkata kepada malaikat keenam yang memegang nafiri itu, “Lepaskanlah keempat malaikat yang diikat dekat Sungai Efrat, sungai besar itu.”

[15] Lalu, dilepaskanlah keempat malaikat itu yang memang sudah disiapkan untuk jam, hari, bulan, dan tahun itu guna membunuh sepertiga dari seluruh umat manusia.

[16] Jumlah tentara berkuda itu dua ratus juta. Itulah jumlah yang diberitahukan kepadaku.

[17] Beginilah nampaknya kuda-kuda dan penunggang-penunggangnya yang kulihat dalam penglihatan itu. Penunggang penunggangnya memakai baju zirah, merah seperti api, biru seperti nilam, dan kuning seperti belerang; sedangkan kepala dari kuda-kuda itu seperti kepala singa, dari mulutnya keluar api, asap, dan belerang.

[18] Sepertiga dari semua umat manusia terbunuh oleh ketiga malapetaka itu, yaitu api, asap, dan belerang yang keluar dari mulut kuda-kuda itu.

[19] Kekuatan dari kuda-kuda itu ada pada mulut dan ekor mereka. Ekor mereka seperti ular, dan berkepala. Lalu, dengan ekor-ekor itu mereka menyiksa manusia.

[20] Manusia-manusia lainnya yang tidak dibunuh oleh ketiga malapetaka itu tidak juga meninggalkan segala perbuatan tangan mereka. Mereka tidak berhenti memuja setan-setan, berhala-berhala dari emas, perak, tembaga, batu, atau dari kayu yang tidak dapat melihat atau mendengar atau berjalan.

[21] Mereka juga tidak mau bertobat dari dosa pembunuhan, sihir, percabulan, dan pencurian.

Wahyu Yahya — Chapters