Skip to content
Opens in a new window
Listen to this chapter • 3:49

[1] Kemudian, aku melihat malaikat turun dari surga. Di tangannya dipegangnya anak kunci jurang maut dan sebuah rantai yang besar.

[2] Ia menangkap naga, si ular tua itu, yaitu Iblis si Setan, lalu membelenggunya untuk seribu tahun lamanya.

[3] Malaikat itu mencampakkan naga itu ke dalam jurang maut, menutup jurang itu, lalu menyegelnya supaya jangan lagi ia menyesatkan bangsa-bangsa sampai genap seribu tahun itu. Setelah itu, ia harus dilepaskan untuk sementara waktu.

[4] Lalu, aku melihat takhta-takhta dan orang-orang yang duduk di atasnya. Mereka diberi kuasa untuk menghakimi. Aku juga melihat jiwa-jiwa orang yang dipenggal kepalanya karena kesaksian mereka tentang Isa dan karena Kalam Allah. Mereka adalah orang-orang yang tidak menyembah binatang itu atau patungnya, dan tidak menerima tandanya pada dahi dan tangan mereka. Mereka hidup kembali serta memerintah bersama Al-Masih selama seribu tahun.

[5] Tetapi, orang-orang mati lainnya tidak dihidupkan kembali sebelum masa seribu tahun itu genap. Inilah kebangkitan yang pertama.

[6] Berbahagialah dan sucilah orang-orang yang memperoleh bagian dalam kebangkitan yang pertama itu! Maut yang kedua tidak berkuasa atas mereka, bahkan mereka akan menjadi imam-imam Allah dan imam-imam Al-Masih, serta akan memerintah sebagai raja bersama-Nya seribu tahun lamanya.

[7] Setelah genap seribu tahun itu, Iblis akan dilepaskan dari dalam penjaranya,

[8] dan akan keluar untuk menyesatkan bangsa-bangsa yang tersebar di keempat penjuru bumi, seperti Juj dan Majuj. Mereka akan dikumpulkan oleh Iblis untuk berperang. Jumlah mereka seperti pasir di tepi laut.

[9] Mereka akan menyebar ke seluruh bumi dan mengepung perkemahan orang-orang saleh dan kota yang dikasihi itu. Tetapi, api turun dari langit dan menghanguskan mereka.

[10] Iblis yang menyesatkan mereka dicampakkan ke lautan api dan belerang, tempat binatang dan nabi palsu itu, dan mereka disiksa siang malam untuk selama-lamanya.

[11] Kemudian, aku melihat arasy putih yang besar dan Dia yang duduk di atasnya. Di hadapan-Nya bumi dan langit lenyap, tak ditemukan lagi.

[12] Aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di hadapan arasy itu. Lalu, kitab-kitab pun dibuka. Dibuka pula sebuah kitab yang lain, yaitu kitab hayat. Orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang tertulis dalam kitab-kitab itu.

[13] Laut menyerahkan semua orang mati yang ada di dalamnya. Demikian juga maut dan alam maut menyerahkan semua orang mati yang ada di dalamnya, lalu mereka semua dihakimi menurut perbuatan masing-masing.

[14] Kemudian, maut dan alam maut dicampakkan ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua, yaitu lautan api.

[15] Setiap orang yang namanya tidak tertulis dalam kitab hayat itu dicampakkan ke dalam lautan api itu.

Wahyu Yahya — Chapters