Skip to content
Opens in a new window
Listen to this chapter • 13:25

[1] Hari raya Roti Tidak Beragi, yang disebut juga hari raya Paskah, sudah dekat.

[2] Imam-imam kepala dan para ahli Kitab Suci Taurat mencari jalan bagaimana melenyapkan Isa sebab mereka takut kepada orang banyak.

[3] Lalu, masuklah Iblis ke dalam diri Yudas yang disebut juga Iskariot. Ia adalah salah seorang dari kedua belas pengikut Isa.

[4] Ia pergi kepada imam-imam kepala dan kepala-kepala pengawal Bait Allah serta berbicara dengan mereka mengenai bagaimana ia akan menyerahkan Isa kepada mereka.

[5] Mereka gembira dan berjanji hendak memberikan sejumlah uang perak kepadanya.

[6] Yudas menyetujuinya, kemudian ia mencari waktu yang baik untuk menyerahkan Isa tanpa diketahui orang banyak.

[7] Tibalah hari raya Roti Tidak Beragi. Pada hari itulah domba Paskah harus disembelih.

[8] Lalu, Isa menyuruh Petrus dan Yahya pergi menyediakan perjamuan Paskah untuk mereka. Sabda-Nya kepada mereka, “Pergilah kamu menyediakan makanan Paskah untuk kita.”

[9] Mereka menjawab, “Ya Junjungan, di manakah Engkau kehendaki kami menyediakannya?”

[10] Isa bersabda kepada mereka, “Begitu kamu masuk ke dalam kota, kamu akan bertemu dengan seorang laki-laki yang sedang membawa buyung air. Ikutilah dia sampai ke rumah yang dimasukinya.

[11] Lalu, katakanlah kepada pemilik rumah itu, ‘Sabda Guru, “Di manakah ruangan yang disediakan bagi-Ku, yaitu tempat Aku dapat makan Paskah bersama-sama dengan para pengikut-Ku?”’

[12] Ia akan menunjukkan kepadamu ruangan atas yang besar dengan perabotan lengkap. Di situlah kamu sediakan makanan Paskah bagi kita!”

[13] Maka, kedua pengikut Isa itu pun pergi dan mereka mendapati semuanya seperti yang telah disabdakan Isa kepada mereka. Lalu, mereka pun mempersiapkan semua keperluan Paskah.

[14] Ketika waktunya tiba, Isa pun duduk makan bersama para pengikut-Nya.

[15] Sabda-Nya kepada mereka, “Aku sangat rindu makan makanan Paskah ini dengan kamu sebelum Aku menghadapi maut.

[16] Sebab Aku berkata kepadamu, Aku tidak akan lagi memakannya sampai Paskah itu digenapi di dalam Kerajaan Allah.”

[17] Isa mengambil sebuah cawan berisi anggur, kemudian mengucap syukur kepada Allah. Setelah itu, Ia bersabda, “Ambillah ini dan bagikanlah di antaramu.

[18] Aku berkata kepadamu, mulai saat ini Aku tidak akan minum air anggur ini lagi sampai Kerajaan Allah datang.”

[19] Lalu, Isa mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya, dan memberikannya kepada para pengikut-Nya. Sabda-Nya, “Inilah tubuh-Ku yang Kuserahkan untuk kamu. Lakukanlah ini untuk mengingat Aku.”

[20] Setelah itu, Isa melakukan hal yang sama dengan cawan yang berisi anggur. Sabda-Nya, “Cawan ini adalah perjanjian baru yang disahkan oleh darah-Ku dan yang ditumpahkan bagimu.

[21] Namun, sesungguhnya tangan orang yang menyerahkan Aku ada di sini. Ia duduk makan bersama-sama dengan Aku.

[22] Memang Anak Manusia akan pergi seperti yang sudah ditentukan Allah, tetapi celakalah orang yang menyerahkan Dia!”

[23] Maka, pengikut-pengikut Isa mulai bertanya-tanya satu sama lain mengenai siapa kira-kira dari antara mereka yang akan berbuat demikian.

[24] Di antara para pengikut Isa timbul pertengkaran mengenai siapa di antara mereka yang dianggap terbesar.

[25] Karena itu, Isa bersabda kepada mereka, “Raja-raja bangsa-bangsa memperhamba rakyat mereka dan orang-orang yang memerintah bangsa-bangsa disebut pelindung-pelindung rakyat.

[26] Namun, kamu janganlah begitu. Sebaliknya, hendaklah yang terbesar di antaramu seolah-olah menjadi yang terendah, dan orang yang memimpin seolah-olah menjadi pelayan.

[27] Karena siapakah yang lebih besar, orang yang duduk makan atau orang yang melayani? Bukankah orang yang duduk makan? Tetapi, di antara kamu, Akulah yang melayani.

[28] Kamu selalu setia menyertai Aku pada waktu Aku dicobai.

[29] Maka, Aku menentukan bagimu kerajaan, seperti Bapa-Ku telah menentukan hal itu bagi-Ku.

[30] Kamu akan duduk makan dan minum semeja dengan Aku dalam kerajaan-Ku. Kamu juga akan duduk di atas takhta-takhta untuk menghakimi kedua belas suku bani Israil.”

[31] Isa bersabda, “Simon, Simon, lihatlah! Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti orang menampi gandum dengan nyiru.

[32] Akan tetapi, Aku sudah berdoa untukmu supaya imanmu jangan gugur, dan nanti apabila engkau sudah berbalik, engkau harus menguatkan iman saudara-saudaramu juga.”

[33] Petrus menjawab, “Ya Junjungan, bersama-Mu aku rela masuk penjara atau dibunuh sekalipun.”

[34] Sabda Isa, “Petrus, Aku berkata kepadamu, ayam tidak akan berkokok hari ini sebelum engkau berkata tiga kali bahwa engkau tidak mengenal Aku.”

[35] Kemudian, Isa bersabda kepada mereka, “Ketika Aku menyuruh kamu pergi tanpa membawa pundi-pundi atau tempat bekal atau kasut, adakah kamu kekurangan sesuatu?” Mereka menjawab, “Tidak satu pun.”

[36] Lalu, Isa bersabda kepada mereka, “Tetapi sekarang, jika kamu mempunyai pundi-pundi atau tempat bekal, bawalah, dan jika kamu tidak mempunyai pedang, juallah bajumu dan belilah pedang.

[37] Aku berkata kepadamu, apa yang tertulis ini haruslah terjadi pada diri-Ku, ‘Ia akan digolongkan pada orang-orang durhaka.’ Sebab semua yang tertulis mengenai diri-Ku sedang digenapi.”

[38] Mereka berkata, “Ya Junjungan, lihatlah, di sini ada dua pedang.” Sabda-Nya kepada mereka, “Cukuplah.”

[39] Isa meninggalkan kota itu, lalu pergi ke Bukit Zaitun seperti yang biasa dilakukan-Nya. Pengikut-pengikut-Nya pergi juga bersama-Nya.

[40] Setelah sampai di tempat itu bersabdalah Ia, “Kamu harus berdoa supaya jangan terkena pencobaan.”

[41] Lalu, Ia meninggalkan mereka di situ dan pergi kira-kira sejauh lemparan batu. Di situ Ia sujud dan berdoa,

[42] “Ya Bapa, kalau Engkau berkenan, jauhkanlah cawan minuman ini dari Aku. Tetapi, janganlah kehendak-Ku yang jadi, melainkan kehendak-Mu saja.”

[43] Kemudian, tampak malaikat dari langit datang kepada-Nya dan menguatkan Dia.

[44] Isa merasa sangat gelisah dan takut. Oleh karena itu, Ia berdoa lebih sungguh-sungguh. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang menetes ke tanah.

[45] Setelah berdoa, Ia kembali kepada pengikut-pengikut-Nya dan mendapati mereka sudah tertidur karena terlalu sedih.

[46] Lalu, sabda-Nya kepada mereka, “Mengapa kamu tidur? Bangun dan berdoalah supaya kamu tidak terkena pencobaan.”

[47] Sementara Isa masih bersabda, datanglah serombongan orang yang dipimpin oleh Yudas, yaitu salah seorang dari kedua belas pengikut-Nya. Yudas maju mendekati Isa untuk mencium-Nya.

[48] Tetapi, Isa bersabda kepadanya, “Yudas, dengan ciumankah hendak kauserahkan Anak Manusia?”

[49] Ketika orang-orang yang bersama-sama dengan Isa melihat apa yang terjadi, mereka berkata, “Ya Junjungan, haruskah kami menyerang mereka dengan pedang?”

[50] Lalu, salah seorang dari mereka menyerang seorang hamba Imam Besar dan menetak telinga kanannya sampai putus.

[51] Tetapi, Isa bersabda, “Sudahlah, jangan lagi!” Lalu, Ia menyentuh telinga orang itu dan menyembuhkannya.

[52] Kemudian, sabda Isa kepada imam-imam kepala, kepala-kepala pengawal Bait Allah, dan para tua-tua yang datang untuk menangkap Dia, “Mengapa kamu datang seperti hendak menangkap penyamun karena kamu membawa pedang dan pentungan?

[53] Padahal setiap hari Aku ada di tengah-tengahmu di Bait Allah dan kamu tidak menangkap Aku. Tetapi, inilah saatnya bagi kamu dan inilah pula saatnya bagi penguasa kegelapan untuk bertindak.”

[54] Orang-orang itu menangkap Isa, lalu membawa-Nya pergi ke rumah Imam Besar, sedangkan Petrus mengikuti-Nya dari jauh.

[55] Di tengah-tengah halaman rumah itu orang menyalakan api dan mereka duduk mengelilinginya. Petrus juga duduk di situ di antara mereka.

[56] Seorang hamba perempuan melihat Petrus duduk di situ, di depan api. Ia mengamat-amati Petrus, lalu berkata, “Orang ini juga termasuk salah satu pengikut-Nya.”

[57] Tetapi, Petrus menyangkalnya, “Aku tidak kenal Dia.”

[58] Tidak lama setelah itu, seorang yang lain lagi melihat Petrus, lalu berkata, “Engkau juga salah seorang dari mereka.” Tetapi, Petrus berkata, “Tidak, bukan aku!”

[59] Kira-kira satu jam kemudian, seorang yang lain lagi berkata dengan tegas, “Sungguh, orang ini adalah pengikut-Nya karena ia pun orang Galilea.”

[60] Tetapi, Petrus berkata, “Aku tidak mengerti apa yang kaumaksudkan!” Saat itu juga, sementara ia masih berbicara, ayam pun berkokok.

[61] Kemudian, Isa, Sang Junjungan, menoleh dan memandang kepada Petrus. Lalu, teringatlah Petrus pada sabda yang telah disampaikan Sang Junjungan kepadanya, “Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau akan menyangkal Aku tiga kali.”

[62] Petrus pun keluar dan menangis dengan sedih sekali.

[63] Orang-orang yang menahan Isa, mengejek dan memukuli-Nya.

[64] Mereka menutupi mata-Nya, lalu bertanya kepada-Nya, “Katakanlah siapa yang memukul Engkau!”

[65] Mereka memakai banyak kata-kata lain untuk menghujah Dia.

[66] Ketika hari sudah siang, berkumpullah para tua-tua bangsa, imam-imam kepala, dan para ahli Kitab Suci Taurat. Lalu, mereka membawa Isa menghadap Mahkamah Agama mereka. Mereka berkata,

[67] “Engkau Al-Masih, bukan? Katakanlah kepada kami!” Isa bersabda, “Jika Aku mengatakannya kepadamu, kamu tidak akan mempercayainya

[68] dan sekalipun Aku bertanya kepadamu, kamu tidak akan menjawab.

[69] Tetapi, mulai saat ini, Anak Manusia akan duduk di sebelah kanan Allah Yang Mahakuasa.”

[70] Mereka semua berkata, “Kalau begitu, Engkaukah Sang Anak yang datang dari Allah?” Sabda Isa kepada mereka, “Kamu sendiri mengatakan bahwa Aku adalah Sang Anak yang datang dari Allah.”

[71] Mereka berkata, “Perlukah ada kesaksian lagi? Kita sudah mendengar dari mulut-Nya sendiri!”

Kitab Injil Lukas — Chapters