Skip to content
Opens in a new window
Listen to this chapter • 9:30

[1] Pada suatu hari, ketika Isa sedang mengajar di Bait Allah dan memberitakan Injil kepada orang banyak, datanglah kepada-Nya imam-imam kepala, para ahli Kitab Suci Taurat, dan para tua-tua.

[2] Kemudian, mereka berkata kepada-Nya, “Katakanlah kepada kami, apa wewenang-Mu melakukan semua itu? Selain itu, siapakah yang memberikan wewenang itu kepada-Mu?”

[3] Sabda Isa kepada mereka, “Aku pun hendak bertanya kepadamu dan kamu harus memberikan jawabannya kepada-Ku.

[4] Dari manakah asalnya permandian Yahya? Dari surga atau dari manusia?”

[5] Lalu, mereka membicarakan hal itu di antara mereka sendiri, “Jika kita katakan, ‘dari surga,’ maka Ia akan berkata, ‘Kalau begitu, mengapa kamu tidak percaya kepadanya?’

[6] Tetapi, jika kita katakan, ‘dari manusia,’ maka orang banyak ini akan merajam kita karena mereka yakin bahwa Yahya adalah seorang nabi.”

[7] Oleh sebab itu, mereka menjawab bahwa mereka tidak tahu dari mana asalnya permandian itu.

[8] Kemudian, sabda Isa kepada mereka, “Kalau begitu, Aku pun tidak akan mengatakan dari mana wewenang yang Kumiliki untuk melakukan semua itu.”

[9] Lalu, Isa mulai menyampaikan ibarat ini kepada orang-orang yang ada di situ. Sabda-Nya, “Ada seorang yang membuat kebun anggur. Kemudian, ia menyewakannya kepada beberapa penggarap, sedangkan ia sendiri pergi ke negeri lain untuk beberapa waktu lamanya.

[10] Ketika tiba musimnya, ia menyuruh seorang hamba menemui penggarap-penggarap itu dengan maksud supaya mereka menyerahkan kepadanya hasil buah dari kebun anggur itu. Tetapi, penggarap-penggarap itu memukuli hamba itu dan menyuruhnya pergi dengan tangan hampa.

[11] Kemudian, pemilik kebun anggur itu menyuruh lagi hamba yang lain, tetapi hamba ini pun dipukuli, dipermalukan, dan disuruh pergi dengan tangan hampa oleh mereka.

[12] Untuk ketiga kalinya pemilik kebun itu mengutus hamba yang lain lagi, tetapi hamba ini pun dianiaya dan dilempar oleh penggarap-penggarap itu ke luar kebun anggur.

[13] Lalu, kata pemilik kebun anggur itu, ‘Apa lagi yang harus kulakukan? Aku akan mengutus anakku yang kukasihi, barangkali mereka akan menghormatinya.’

[14] Tetapi, ketika penggarap-penggarap itu melihat dia, mereka berkata satu kepada lainnya, ‘Dia adalah ahli warisnya. Mari kita bunuh dia supaya warisan itu menjadi milik kita.’

[15] Lalu, mereka membuangnya ke luar kebun anggur dan membunuhnya. Kira-kira apa yang akan diperbuat oleh pemilik kebun anggur itu terhadap mereka?

[16] Tentu ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu ia akan mempercayakan kebun anggur itu kepada penggarap-penggarap lainnya.” Ketika orang-orang yang ada di situ mendengar apa yang disabdakan-Nya, mereka berkata, “Jangan sekali-kali terjadi yang demikian!”

[17] Lalu, Isa memandang kepada mereka dan bersabda, “Kalau begitu, apa maksud dari tulisan ini, ‘Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru’?

[18] Siapa jatuh ke atas batu itu, ia akan remuk, dan siapa ditimpa oleh batu itu, ia akan hancur luluh.”

[19] Kemudian, para ahli Kitab Suci Taurat dan imam-imam kepala itu mencari jalan untuk menangkap Isa karena mereka tahu bahwa kepada diri merekalah ibarat itu ditujukan. Akan tetapi, mereka takut kepada orang banyak.

[20] Jadi, para ahli Kitab Suci Taurat dan imam-imam kepala itu terus saja mengamat-amati Isa. Mereka mengirim mata-mata yang berlaku sebagai orang yang tulus supaya mereka dapat menjebak Dia melalui kata-kata-Nya. Dengan demikian, mereka dapat menyerahkan Dia kepada penguasa pemerintah yang berwenang.

[21] Mereka berkata kepada-Nya, “Wahai Guru, kami tahu bahwa apa yang Engkau katakan dan ajarkan semuanya benar. Engkau menerima orang tanpa pandang muka, dan Engkau mengajarkan Jalan Allah dengan jujur.

[22] Bolehkah kita membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?”

[23] Tetapi, Isa tahu bahwa mereka mempunyai maksud yang licik. Lalu, sabda-Nya kepada mereka,

[24] “Tunjukkanlah kepada-Ku sekeping uang dinar. Gambar dan cap siapakah yang ada pada dinar ini?” Jawab mereka, “Gambar dan cap Kaisar.”

[25] Sabda-Nya kepada mereka, “Kalau begitu, serahkanlah kepada Kaisar apa yang seharusnya diserahkan kepada Kaisar, dan serahkanlah kepada Allah apa yang seharusnya diserahkan kepada Allah.”

[26] Mereka tidak dapat menjebak Dia melalui kata-kata-Nya di depan orang banyak itu. Mereka heran akan jawaban-Nya, jadi mereka diam.

[27] Kemudian, datanglah kepada Isa beberapa orang dari mazhab Saduki yang berpendapat bahwa kebangkitan orang mati itu tidak ada. Mereka bertanya kepada-Nya,

[28] “Wahai Guru, Musa telah menuliskan bagi kita bahwa jika seorang saudara laki-laki meninggal, dan ia mempunyai istri, tetapi tidak mempunyai anak, maka saudaranya yang laki-laki harus memperistri janda almarhum itu supaya diperoleh keturunan bagi almarhum.

[29] Ada tujuh orang laki-laki bersaudara. Saudara yang pertama menikah, tetapi kemudian ia meninggal tanpa mempunyai anak.

[30] Kemudian, janda almarhum itu dinikahi oleh saudaranya yang kedua,

[31] yang ketiga, dan seterusnya sampai yang ketujuh, tetapi mereka semua meninggal tanpa mempunyai anak.

[32] Pada akhirnya perempuan itu pun meninggal.

[33] Pada waktu kebangkitan orang mati nanti, istri siapakah perempuan itu? Karena ketujuh laki-laki itu sudah menikahinya.”

[34] Sabda Isa kepada mereka, “Orang-orang zaman ini menikah dan dinikahkan,

[35] sedangkan mereka yang dianggap layak untuk memperoleh kehidupan di akhirat dan dibangkitkan dari antara orang mati tidak akan menikah atau dinikahkan.

[36] Mereka pun tidak dapat mati lagi karena mereka setara dengan para malaikat. Mereka adalah anak-anak Allah karena mereka telah dibangkitkan.

[37] Sedangkan mengenai orang-orang mati yang akan dibangkitkan kembali, bahkan Nabi Musa pun telah menyatakannya dalam tulisannya tentang semak duri yang menyala, yaitu ketika ia menyebut Allah sebagai Tuhan Ibrahim, Ishak, dan Yakub.

[38] Ia bukanlah Tuhan yang disembah oleh orang yang mati, melainkan oleh orang yang hidup sebab di hadapan Allah semua orang hidup.”

[39] Beberapa ahli Kitab Suci Taurat berkata, “Ya Guru, baik sekali jawaban-Mu itu!”

[40] Karena itu, mereka tidak berani lagi mengajukan pertanyaan apa pun kepada-Nya.

[41] Isa bersabda kepada mereka, “Bagaimana mungkin orang berkata bahwa Al-Masih adalah anak Daud?

[42] Sebab dalam Kitab Zabur yang disampaikan oleh Daud telah tertulis, ‘Tuhan bersabda kepada Junjunganku: Duduklah di sebelah kanan-Ku

[43] sampai Aku menaruh musuh-musuh-Mu di bawah kaki-Mu.’

[44] Jadi, jika Daud menyebut-Nya ‘Junjungan,’ bagaimana mungkin Dia adalah anaknya?”

[45] Ketika semua orang masih mendengarkan Isa, bersabdalah Ia kepada para pengikut-Nya,

[46] “Jagalah dirimu dari para ahli Kitab Suci Taurat yang suka berjalan-jalan dengan memakai jubah panjang, suka menerima penghormatan di pasar-pasar, dan suka duduk di tempat-tempat terhormat, baik di rumah-rumah ibadah maupun di tempat-tempat perjamuan.

[47] Mereka merampas isi rumah para janda dan berpura-pura dengan memanjang-manjangkan doa mereka. Pastilah mereka akan menerima hukuman yang lebih berat.”

Kitab Injil Lukas — Chapters