Skip to content
Opens in a new window
Listen to this chapter • 7:25

[1] Hai Saudara-saudaraku, kehendak hatiku dan permohonanku kepada Allah bagi bani Israil ialah supaya mereka diselamatkan.

[2] Aku dapat memberi kesaksian tentang mereka bahwa mereka memiliki semangat dalam beribadah kepada Allah, tetapi bukan atas dasar pengertian yang benar.

[3] Mereka tidak mengenal pembenaran dari Allah dan berusaha mencari pembenaran berdasarkan pengertian mereka sendiri. Oleh karena itu, mereka tidak takluk pada pembenaran yang berasal dari Allah itu.

[4] Al-Masih telah menggenapi hukum Taurat sehingga setiap orang yang beriman dibenarkan.

[5] Tentang pembenaran berdasarkan hukum Taurat, Musa menerangkan demikian, “Orang yang menaati hukum Taurat akan hidup karena hal itu.”

[6] Sedangkan pembenaran berdasarkan iman mengatakan demikian, “Jangan katakan dalam hatimu, ‘Siapa yang akan naik ke surga?’ (untuk membawa Al-Masih turun),

[7] atau, ‘Siapa yang akan turun ke alam kubur?’ (untuk membawa Al-Masih naik dari antara orang-orang mati)”.

[8] Apa yang dimaksud? “Firman itu begitu dekat padamu, yaitu di dalam mulutmu dan di dalam hatimu.” Itulah firman tentang iman yang kami ajarkan.

[9] Karena jika dengan mulutmu kamu mengaku bahwa Isa adalah Junjungan Yang Ilahi, dan di dalam hatimu kamu percaya bahwa Ia telah dibangkitkan Allah dari antara orang-orang mati, maka kamu akan diselamatkan.

[10] Karena dengan hatinya seseorang percaya sehingga ia dibenarkan, dan dengan mulutnya seseorang mengaku sehingga ia diselamatkan.

[11] Dalam Kitab Suci dikatakan, “Siapa percaya kepada-Nya tidak akan mendapat malu,”

[12] karena tidak ada pembedaan antara bani Israil dengan orang-orang Yunani. Allah yang sama jugalah yang menjadi Tuhan atas semuanya. Ia sangat bermurah hati kepada semua orang yang berseru kepada-Nya,

[13] “karena setiap orang yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan.”

[14] Akan tetapi, bagaimana mereka dapat berseru kepada Dia yang belum mereka percayai? Bagaimana mereka dapat percaya kepada-Nya kalau mereka belum pernah mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka dapat mendengar kalau tidak ada orang-orang yang mengabarkan tentang Dia kepada mereka?

[15] Bagaimana orang-orang dapat mengabarkan tentang Dia kalau mereka tidak diutus? Seperti telah tertulis, “Betapa eloknya kaki orang-orang yang membawa kabar baik!”

[16] Meskipun demikian, tidak semua orang mau menerima kabar baik itu, seperti dikatakan oleh Yesaya, “Ya Tuhan, siapa yang percaya kepada pemberitaan kami?”

[17] Jadi, iman datang melalui pendengaran, dan apa yang didengar adalah sabda Al-Masih.

[18] Tetapi, aku bertanya, “Apakah mereka tidak mendengarnya?” Mereka tentu mendengarnya! Karena, “Suara mereka telah sampai ke seluruh dunia, dan perkataan mereka telah sampai ke ujung bumi.”

[19] Aku bertanya lagi, “Apakah bani Israil tidak memahaminya?” Pertama-tama, Musa menyampaikan, “Aku akan membangkitkan rasa cemburu dalam hatimu terhadap orang-orang yang tidak disebut ‘umat-Ku,’ dan Aku akan membangkitkan amarahmu terhadap bangsa yang bodoh.”

[20] Kemudian, dengan sangat berani Yesaya menyampaikan, “Aku telah berkenan ditemui oleh orang-orang yang tidak mencari Aku, Aku pun telah berkenan menyatakan diri-Ku kepada orang-orang yang tidak menanyakan Aku.”

[21] Tetapi, mengenai bani Israil, inilah yang disampaikannya, “Sepanjang hari Aku mengulurkan tangan-Ku kepada bangsa yang durhaka dan yang suka membantah.”

Surat Rum — Chapters