Skip to content
Opens in a new window

[1] Semangatku patah, hari-hariku punah, kubur menantikan aku.

[2] Sungguh, para pengolok ada bersamaku, dan aku harus terus menyaksikan tentangan mereka.

[3] Jaminlah aku dengan diri-Mu sendiri. Siapa lagi yang dapat membuat perjanjian penjaminan dengan aku?

[4] Engkau telah menutup hati mereka terhadap kebijaksanaan, itulah sebabnya Engkau tidak akan meninggikan mereka.

[5] Siapa mengadukan sahabatnya demi keuntungan, mata anak-anaknya akan menjadi rabun.

[6] Aku dijadikan bahan sindiran orang banyak, aku menjadi orang yang diludahi mukanya.

[7] Mataku kabur karena rasa kesal, seluruh anggota tubuhku seperti bayang-bayang.

[8] Orang yang lurus hati tercengang karena hal ini, orang yang tak bersalah bangkit melawan orang munafik.

[9] Meskipun begitu, orang benar akan tetap berpegang pada jalannya, dan orang yang suci tangannya akan bertambah kuat.

[10] Tetapi, kamu sekalian, silakan mulai lagi! Aku tidak akan menemukan seorang bijak di antaramu!

[11] Hari-hariku telah berlalu, rencana-rencanaku telah gagal, demikian pula cita-cita hatiku.

[12] Mereka ubah malam jadi siang. ‘Terang sudah dekat,’ kata mereka di hadapan kegelapan.

[13] Jika kuharapkan alam kubur sebagai rumahku, jika kuhamparkan petiduranku dalam kegelapan,

[14] jika kukatakan kepada liang kubur, ‘Engkau ayahku,’ dan kepada belatung, ‘Ibuku,’ atau ‘Saudara perempuanku,’

[15] maka di manakah pengharapanku? Pengharapanku—siapa yang dapat melihatnya?

[16] Pengharapan itu akan turun ke pintu gerbang alam kubur apabila kami turun bersama-sama ke dalam debu.”

Kitab Taurat Ayub — Chapters