Skip to content
Opens in a new window
Listen to this chapter • 3:49

[1] Hai Saudara-saudaraku, janganlah banyak di antara kamu yang mau menjadi guru sebab kita tahu bahwa guru akan menerima hukuman yang lebih berat.

[2] Kita semua bersalah dalam banyak hal. Jika seseorang tidak pernah bersalah dalam tutur katanya, maka ia adalah orang yang sempurna, yang juga dapat mengendalikan seluruh tubuhnya.

[3] Kita memasang kekang pada mulut kuda supaya ia menuruti perintah kita. Dengan begitu, seluruh tubuhnya pun dapat kita kendalikan.

[4] Perhatikan juga kapal-kapal laut. Walaupun begitu besar dan didorong oleh angin yang keras, kapal-kapal itu dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil ke arah mana saja sesuai dengan kehendak juru mudi.

[5] Demikian juga lidah. Lidah adalah satu anggota tubuh yang kecil. Namun, ia sangat bermegah. Perhatikanlah, api yang begitu kecil dapat membakar hutan yang begitu besar.

[6] Lidah pun sama dengan api. Di antara anggota-anggota tubuh kita, lidah merupakan dunia kejahatan yang dapat menajiskan seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan, sedangkan lidah itu sendiri dinyalakan oleh neraka jahanam.

[7] Bermacam-macam binatang seperti burung-burung, binatang melata, dan yang hidup di laut, dapat dijinakkan, bahkan sudah dijinakkan oleh manusia.

[8] Tetapi, lidah, tidak ada seorang pun yang dapat menjinakkannya; kejahatannya tidak dapat dihentikan, bahkan penuh dengan bisa yang mematikan.

[9] Dengan lidah kita memuji Tuhan, Sang Bapa kita, dan dengan lidah juga kita mengutuki manusia yang dijadikan menurut citra Allah.

[10] Dari mulut yang sama keluar pujian dan juga kutukan. Hai Saudara-saudaraku, hal yang demikian tidaklah patut.

[11] Adakah mata air yang memancarkan air tawar dan air pahit dari satu pancaran yang sama?

[12] Hai Saudara-saudaraku, dapatkah pohon ara mengeluarkan buah zaitun atau pohon anggur mengeluarkan buah ara? Lagi pula, mata air yang mengeluarkan air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar.

[13] Siapakah di antara kamu yang bijak dan berhikmah? Hendaklah dengan kelakuan yang baik ia menunjukkan segala perbuatannya dalam kelemahlembutan yang datang dari hikmah.

[14] Tetapi, jika pada kamu ada kecemburuan yang dalam dan sikap mementingkan diri, janganlah kamu meninggikan diri dan berdusta melawan kebenaran.

[15] Hikmah yang demikian itu bukan datang dari atas, melainkan dari dunia ini, dari tabiat manusia yang berdosa, dan dari setan-setan.

[16] Karena di mana ada kecemburuan dan sikap mementingkan diri, maka di situ ada kekacauan dan segala tindak kejahatan.

[17] Tetapi, hikmah yang dari atas itu pertama-tama adalah suci, kemudian suka damai, ramah, tidak keras kepala, penuh dengan belas kasihan dan berbagai buah kebaikan, berpendirian, serta tidak berpura-pura.

[18] Buah-buah keadilan itu ditabur dalam kesejahteraan oleh para pendamai.

Surat Yakub — Chapters