Skip to content
Opens in a new window
Listen to this chapter • 6:43

[1] Hai orang-orang Galatia yang bodoh, siapa gerangan yang telah mengguna-gunai kamu? Padahal Isa Al-Masih yang telah disalibkan itu sudah ditunjukkan dengan jelas di depan matamu.

[2] Beritahukanlah kepadaku satu hal ini saja: Apakah kamu telah menerima Ruh Allah karena kamu melakukan hukum Taurat atau karena kamu mengimani Injil yang kamu dengar?

[3] Sedemikian bodohkah kamu? Kamu sudah memulai dengan Ruh. Menurutmu, dapatkah kamu disempurnakan dengan usahamu yang manusiawi?

[4] Sia-siakah sebegitu banyak hal yang telah kamu alami? Masakan semua itu sia-sia!

[5] Apakah Tuhan menganugerahkan Ruh kepadamu dan mengadakan berbagai mukjizat di antaramu karena kamu melakukan hukum Taurat atau karena kamu mengimani Injil yang kamu dengar?

[6] Sama seperti tertulis tentang Ibrahim, “Ia percaya kepada Allah, dan hal itu diperhitungkan baginya sebagai kebenaran.”

[7] Ketahuilah bahwa semua orang yang beriman adalah anak-anak Ibrahim.

[8] Kitab Suci, yang telah lebih dahulu melihat bahwa Allah akan membenarkan melalui iman orang-orang yang tidak termasuk bani Israil, telah lebih dahulu mengabarkan kabar baik itu kepada Ibrahim, “Melalui engkau semua suku bangsa akan memperoleh berkah Allah.”

[9] Dengan demikian, orang-orang yang beriman memperoleh berkah Allah bersama-sama dengan Ibrahim, orang yang beriman itu.

[10] Sebaliknya, mereka yang bersandar pada hukum Taurat ada di bawah kutuk sebab telah tertulis, “Terkutuklah setiap orang yang tidak setia dalam melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam Kitab Suci Taurat.”

[11] Jelaslah sekarang bahwa tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat, sebab “Orang benar akan hidup oleh iman.”

[12] Hukum Taurat tidak dilandaskan atas iman, melainkan “Orang yang melakukan hukum-hukum itu akan hidup karenanya.”

[13] Al-Masih telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat, yaitu dengan menjadi penanggung kutuk menggantikan kita—karena telah tertulis, “Setiap orang yang digantung pada kayu salib adalah orang yang terkutuk.”

[14] Hal itu dilakukan oleh Isa Al-Masih supaya melalui diri-Nya, berkah Allah atas Ibrahim dapat sampai kepada orang-orang yang tidak termasuk bani Israil, dan supaya melalui iman, kita dikaruniai Ruh yang telah dijanjikan itu.

[15] Hai Saudara-saudaraku, aku mengikuti kebiasaan manusia sebagai contoh. Jika suatu wasiat telah disahkan, maka tidak seorang pun dapat membatalkannya atau menambahinya.

[16] Demikian juga halnya dengan semua janji yang diberikan kepada Ibrahim dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan, “dan kepada semua keturunanmu,” seolah-olah menunjuk kepada orang banyak, melainkan hanya menunjuk kepada satu orang, “dan kepada keturunanmu,” yaitu Al-Masih.

[17] Inilah maksud dari perkataanku: Perjanjian yang sebelumnya telah ditetapkan Allah, tidak dapat diubah oleh hukum Taurat, yang baru terbit empat ratus tiga puluh tahun kemudian sehingga perjanjian itu menjadi batal.

[18] Karena jika harta pusaka itu berasal dari hukum Taurat, maka hal itu tidak lagi berasal dari janji, padahal harta pusaka itu telah dianugerahkan Allah kepada Ibrahim melalui janji.

[19] Kalau begitu, untuk apakah hukum Taurat itu? Hukum Taurat ditambahkan karena pelanggaran-pelanggaran manusia sampai datangnya keturunan yang dijanjikan itu. Sedangkan penyampaiannya dilakukan oleh para malaikat melalui seorang perantara.

[20] Seorang perantara tidak hanya bertindak mewakili satu pihak saja, melainkan dua pihak. Tetapi, Allah menyampaikan sendiri janji-Nya tanpa perantara.

[21] Kalau begitu, apakah hukum Taurat itu bertentangan dengan semua janji Allah? Sekali-kali tidak! Karena seandainya hukum yang diturunkan itu dapat memberi hidup, maka tentunya kebenaran itu benar-benar berasal dari hukum Taurat.

[22] Akan tetapi, Kitab Suci telah menawan segala sesuatu di bawah kuasa dosa supaya janji yang berasal dari iman dalam Isa Al-Masih dapat sampai kepada orang-orang yang percaya.

[23] Sebelum iman itu datang, memang kita berada di bawah kawalan hukum Taurat. Kita tertawan sampai iman itu dinyatakan.

[24] Dengan demikian, hukum Taurat itu menjadi penuntun yang membawa kita kepada Al-Masih supaya kita dibenarkan karena iman.

[25] Setelah iman itu datang, kita tidak lagi berada di bawah penuntun itu.

[26] Kamu semua telah menjadi anak-anak Allah karena iman dalam Isa Al-Masih,

[27] sebab setiap orang di antara kamu yang dipermandikan dalam Al-Masih telah mengenakan Al-Masih.

[28] Tidak ada lagi perbedaan antara orang Israil atau orang Yunani, hamba atau orang yang merdeka, bahkan laki-laki atau perempuan karena kamu semua telah menjadi satu dalam Isa Al-Masih.

[29] Jika kamu milik Al-Masih, maka kamu pun keturunan Ibrahim dan menjadi ahli-ahli warisnya sesuai dengan janji Allah.

Surat Galatia — Chapters