Skip to content
Opens in a new window
Listen to this chapter • 6:31

[1] Jadi, turutilah teladanku, seperti aku pun menuruti teladan Al-Masih.

[2] Aku memuji kamu sebab kamu tetap mengingat aku dalam segala hal, serta tetap berpegang pada semua ajaran yang kusampaikan kepadamu.

[3] Tetapi, aku hendak memberitahukan kepadamu bahwa Al-Masih adalah kepala dari setiap laki-laki, laki-laki adalah kepala perempuan, dan Allah adalah kepala Al-Masih.

[4] Setiap laki-laki yang menudungi kepalanya pada waktu ia berdoa atau bernubuat, mempermalukan kepalanya.

[5] Sebaliknya, setiap perempuan yang tidak menudungi kepalanya pada waktu ia berdoa atau bernubuat, mempermalukan kepalanya karena dengan demikian seolah-olah ia telah mencukur rambutnya.

[6] Jika seorang perempuan tidak bertudung, sebaiknya rambutnya digunting habis saja. Tetapi, jika bagi seorang perempuan, rambut yang digunting habis merupakan sesuatu yang memalukan, maka hendaklah ia bertudung.

[7] Laki-laki tidak patut menudungi kepalanya karena ia mencerminkan citra dan kemuliaan Allah. Tetapi, perempuan mencerminkan kemuliaan laki-laki

[8] karena laki-laki tidak berasal dari perempuan, melainkan perempuanlah yang berasal dari laki-laki.

[9] Lagi pula, laki-laki diciptakan bukan karena perempuan, melainkan perempuanlah yang diciptakan karena laki-laki.

[10] Oleh karena itu, dan karena para malaikat, perempuan wajib memakai satu tanda di atas kepalanya yang menunjukkan kewenangan.

[11] Namun, di dalam Tuhan tidak ada laki-laki tanpa perempuan dan tidak ada perempuan tanpa laki-laki.

[12] Karena seperti perempuan berasal dari laki-laki, demikian pula laki-laki dilahirkan oleh perempuan—semuanya dari Allah juga asalnya.

[13] Pertimbangkanlah sendiri: Pantaskah seorang perempuan berdoa kepada Allah dengan tidak bertudung?

[14] Bukankah alam sendiri mengajarkan kepadamu bahwa sesungguhnya memalukan bagi seorang laki-laki jika ia berambut panjang?

[15] Sebaliknya, jika seorang perempuan berambut panjang, maka hal itu merupakan suatu kemuliaan baginya karena rambut yang panjang itu diberikan kepadanya sebagai penudung.

[16] Jika seseorang masih mau membantahnya, maka yang dapat kukatakan ialah bahwa pada kami tidak ada kebiasaan yang lain, demikian pula pada semua jemaah Allah.

[17] Aku tidak memuji kamu dalam petunjuk-petunjuk yang berikut ini karena apabila kamu berhimpun, hal itu tidak mendatangkan kebaikan bagimu, melainkan keburukan.

[18] Pertama-tama, aku mendengar bahwa apabila kamu berhimpun dalam berjemaah, terjadi pengelompokan-pengelompokan di antara kamu. Mengenai hal ini, setidak-tidaknya aku percaya juga.

[19] Memang mau tidak mau di antara kamu akan terbentuk beberapa kelompok sehingga nyatalah orang-orang yang tahan uji di antara kamu.

[20] Lagi pula, ketika kamu berhimpun, kamu bukan berhimpun untuk makan dalam perjamuan Tuhan.

[21] Karena ketika waktu makan tiba, kamu saling mendahului untuk mengambil makanan bagi diri sendiri sehingga ada sebagian yang kelaparan, sedangkan yang lainnya mabuk.

[22] Tidakkah kamu mempunyai rumah, tempat kamu makan dan minum? Ataukah kamu memandang rendah jemaah Allah dan bermaksud mempermalukan mereka yang tidak punya apa-apa? Jadi, apa yang harus kukatakan kepadamu? Dapatkah aku memuji kamu? Dalam hal ini, aku tidak dapat memuji kamu.

[23] Apa yang telah kuterima dari Isa, Junjungan kita Yang Ilahi, itulah yang telah kuajarkan kepadamu, yaitu pada malam ketika Isa, Junjungan kita Yang Ilahi, dikhianati, Ia mengambil roti,

[24] dan setelah mengucap syukur, dipecah-pecahkan-Nya roti itu serta bersabda, “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu. Lakukanlah ini untuk mengingat Aku.”

[25] Setelah selesai makan, Ia pun mengambil cawan dan bersabda, “Cawan ini adalah perjanjian baru dalam darah-Ku. Lakukanlah ini untuk mengingat Aku, setiap kali kamu meminumnya.”

[26] Karena setiap kali kamu makan roti dan minum dari cawan dengan cara yang demikian, kamu sedang memberitakan kematian Junjungan kita Yang Ilahi sampai kedatangan-Nya.

[27] Siapa makan roti atau minum dari cawan Tuhan dengan cara yang tidak layak, ia bersalah terhadap Tubuh dan Darah Junjungan kita Yang Ilahi.

[28] Sebab itu, tiap-tiap orang harus memeriksa diri sendiri, setelah itu barulah ia makan roti dan minum dari cawan itu.

[29] Karena orang yang makan dan minum tanpa menganggap Tubuh sebagai sesuatu yang penting, maka hukuman atas dirinya jugalah yang dimakan dan diminumnya itu.

[30] Itulah sebabnya, mengapa banyak di antara kamu yang menjadi lemah dan sakit, bahkan beberapa orang meninggal.

[31] Tetapi, jika kita memeriksa diri kita sendiri, maka kita tidak akan dihukum.

[32] Seandainya Tuhan sampai menghukum kita juga, maka kita dihajar-Nya dengan maksud supaya jangan kita terkena hukuman bersama-sama dengan dunia ini.

[33] Sebab itu, hai Saudara-saudaraku, apabila kamu berhimpun untuk makan dalam perjamuan, hendaklah kamu saling menanti.

[34] Jika seorang merasa lapar, sebaiknya ia makan dahulu di rumahnya supaya perhimpunanmu itu tidak mendatangkan hukuman atas kamu. Sedangkan hal-hal lainnya akan kuatur kemudian apabila aku datang.

Surat 1 Korintus — Chapters